Senin, 27 Juni 2016

Buku Ensiklopedia Lili

Lili pergi ke toko buku dengan ibunya. Di sana, anak kelas 3 SD tersebut tertarik dengan sebuah tas berwarna biru muda bergambar Doraemon. Tas yang imut.

"Tidak boleh, tas sekolahmu kan masih bagus." kata ibunya, begitu Lili merengek minta tas.

Sambil bersungut-sungut, gadis tersebut kembali berkeliling toko.

"Kalau ini?" kata Lili sambil senyum semanis mungkin, menyerahkan buku ensiklopdia anak-anak bergambar.

Ibunya berpikir sejenak. "Baik, tapi harus dibaca sampai habis, karena harganya mahal."

Lili mengangguk cepat.

Sejak saat itu, Lili selalu membawa buku tersebut kemana-mana. Ke sekolah, ke tempat les matematika, ke tempat les inggris, pokoknya kapanpun ada kesempatan selalu ia bawa.

Suatu pagi, saat Lili hendak pergi ke sekolah, ibunya memberikan sebuah buku ensiklopedia baru. "Ibu lihat kamu rajin sekali membaca buku ini, makanya ibu belikan lagi."

Lili memasukkan ensiklopedia barunya ke dalam tas, lalu kembali hendak berangkat sekolah.

"Lho, yang lama disimpan di rumah saja. Bawa satu saja sudah berat, apalagi dua?" kata ibunya khawatir.

"Tak apa, bu. Biar tasku lebih cepat rusak." jawab Lili sambil melengos pergi.

Kamis, 09 Juni 2016

Judge A Book By Its Cover

Dont judge a book by its cover. Pepatah yang populer, namun menurutku tidak sepenuhnya benar.



Memang sih, apa yang terlihat di permukaan seringkali tidak sama dengan apa yang di dalam. Kadang  luarnya sederhana, namun ternyata dalamnya luar biasa. Om Bob (Bob Sadino) contohnya. Begitu juga sebaliknya, kadang luarnya rapi, necis, harum, namun ternyata dalamnya busuk dan pikirannya sempit. Yang ini nggak usah dikasih contoh lah ya... Dah banyak contohnya...

Namun karena adanya anomali seperti mereka, yang cover depan dan isinya beda, bukan berarti peran cover jadi gak penting. Kita manusia terbatas, tidak bisa membaca seluruh isi buku hanya dengan sekali pandang. Kita butuh cover untuk tahu isi sebuah buku tanpa membaca seluruh isi buku terlebih dahulu. We need cover to judge a book at first sight. 

Kalau sudah baca seluruh isi buku sih gak masalah (sudah kenal lama maksudnya). Biar covernya pakai kutang doang, biar pakai tuxedo, kalau kita tahu orangnya keras kepala, ya kita  nilainya keras kepala. Tapi kan gak semua orang bisa langsung kita baca seluruhnya dalam pandangan pertama. We need a cover to judge them.

Mamaku sering berkata bahwa jika kamu mau dihargai orang lain, hargai dirimu dulu. Misalnya kalau aku ke gereja, ya hargai diri sendiri dengan pakai pakaian yang rapi. Kalau pakai pakaian asal-asalan, ya bukan salah orang lain kalau menilaiku buruk. Masa kalau aku pakai pakaian tidur ke gereja, dan orang memandang sinis ke aku, aku mau bilang "Dont judge a book by its cover! Meski aku pake pakaian tidur, aku punya pakaian rapi selemari penuh tau!". Kan ya gendeng. Kalau punya ya pakailah. Buat apa pura-pura memakai cover yang berbeda.

Suatu kali aku diledek, lantaran setiap hari pakai sepatu basket ke kampus. Astaga... Ya gimana lagi, emang aku suka basket, dan kebetulan emang suka pake sepatu basket, ya pakainya itu. Masa aku harus mengganti coverku dengan memakai sepatu casual atau converse atau apapun itu yang biasa dipakai para mahasiswa.

Cover yang kumaksud dari tadi adalah tampilan luar seseorang serta pakaian. Sebenarnya gak dosa sih kalau pakaian berbeda dengan isinya. Orang pemurung pakai baju warna warni atau shocking pink kan gak dosa, sopir taxi pakai seragam pilot kan gak dosa, miliarder pakai pakaian sepuluh ribu tiga kan gak dosa. Tapi ya gitu, walau gak dosa tapi pasti nggak enak. Soalnya gak cocok.

Tapi ada satu jenis cover lagi selain pakaian dan tampilan luar, yaitu sikap dan ucapan. Untuk yang satu ini haram hukumnya kalau berbeda antara isi dan cover. Harus sama, sama plek. Istilah kerennya integritas.

Selasa, 24 Mei 2016

Ingin Makanan Mahal

Bobi baru saja selesai membantu Anton menyelesaikan tugas besarnya. Bukan tugas yang mudah tentu saja. Karena jika tugas itu tak sulit, tentu dia sudah mengerjakannya sendiri.

"Mau kutraktir apa?" kata Anton, setelah selesai mengumpulkan tugasnya.

"Makan aja, yang mahal." kata Bobi sambil senyum kegirangan. Matanya yang sipit langsung hilang tertelan pipi besarnya.

Setelah berjalan beberapa saat, mereka berdua tiba di sebuah restoran mewah. Anton pesan mi ayam, sedangkan Bobi pesan nasi goreng spesial lima rasa. Anton tersenyum kecut.

Makanan akhirnya tiba.

"Nasi gorengnya enak, Bob?" kata Anton penasaran.

"Aku belum pernah makan masakan yang lebih enak dari masakan mamaku. Termasuk nasi goreng ini. Kalau mau kapan - kapan kamu bisa ke rumahku buat nyicipin."

"Lalu, kenapa kamu minta traktir makanan? Makanan mahal pula. Kalau emang enak masakan mamamu, ya minta traktir hal lain kek." kata Anton sewot.

Bobi tersenyum kecil.

"Seseorang yang berkelimpahan air, pasti akan lebih memilih makanan jika diberi pilihan. Sebaliknya, orang yang berkelimpahan makanan akan memilih air. Manusia tentu akan lebih memilih hal yang kurang, hal yang tidak dimilikinya. Makanya tidak heran kalau ada anak yang kaya, hidup serba berkecukupan, tapi tingkah lakunya nakal sekali. Dia punya segalanya kecuali perhatian, makanya dia cari perhatian dengan berbuat nakal."

"Lalu?" kata Anton dengan nada tertahan.

"Aku dari kecil makan masakan mamaku. Pagi, siang, malam selalu makan makanan enak. Makanya aku pingin makanan mahal. Tidak seenak masakan mamaku gak masalah, yang penting mahal!"

"Ya elah.... Suka-suka kamu lah..." kata Anton tak habis pikir.

Senin, 18 April 2016

Pilihlah Aku, Rido!

Pada suatu pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Kucoba kembali menutup mata, namun tak terjadi apa-apa. Aku tetap terjaga. Oke, mungkin sudah saatnya bangun, pikirku dalam hati. Dan kisah pagi hariku pun dimulai.
Sembayang, liat instagram, 9gag, baca buku, nonton anime.......

"Krruuuuukk" tiba-tiba terdengar bunyi raungan. Sial, aku lapar. Kulihat jam tangan yang tergeletak di meja (gak ada jam dinding di kos.) Ah, pantas saja, ternyata sudah dua jam berlalu sejak aku membuka mata.

Akhirnya kuputuskan untuk keluar membeli jajan di minimarket 24 jam terdekat.

Jalanan masih sepi, sepedaku melesat kencang bagai anak sekolahan yang berhamburan keluar gerbang kala bel pulang berdentang. Alhasil, tidak sampai lima menit aku sudah sampai di tujuan.

Kubuka pintu minimarket dan langsung berjalan menuju ke rak belakang. Tanpa celingukan kiri kanan, tanpa bertanya di mana letak rak jajan. Langsung berjalan begitu saja, seperti tuan rumah yang hendak mengambil barangnya sendiri. Yah, gimana lagi, sudah hafal letaknya sih... Hahaha...

Beberapa langkah kemudian aku sudah sampai di lorong paling belakang, tepat di depan rak jajan. Perburuan pun dimulai. Mataku jelalatan ke atas dan ke bawah, mengamati beraneka ragam jajan yang dipajang. Kakiku tidak mau kalah, tiada lelah bergerak mondar mandir bagai setrika yang sedang bekerja.

Namun rupanya perburuan tidak selesai secepat yang kuduga. Tidak semudah itu memilih satu di antara puluhan merk yang terpampang di depan mata. Semua seakan berteriak "Pilihlah aku! Pilihlah aku! Hei, Rido, pilihlah aku!"

Aku terdiam, tenggelam dalam kebingungan.

Semua senada sekata, meneriakkan hal yang sama dengan intensitas suara yang tak jauh berbeda. Lantas siapa yang harus kupilih?

Guru iklanku, Pak Deddi Duto, pernah berkata bahwa proses pemilihan merk tidak hanya terjadi saat berhadap-hadapan seperti yang sekarang ini kualami (memilih merk secara langsung di rak minimarket). Melainkan sudah terjadi jauh sebelumnya melalui iklan TV, billboard, event, dan hal lain yang kita konsumsi. Nah, melalui media-media yang kita konsumsi itulah citra sebuah brand terbentuk di bawah alam sadar kita. Terbentuknya citra suatu brand di bawah alam sadar kita membuat kita mengenali brand itu (sadar atau tidak) dan akhirnya kemungkinan besar kita akan mengambilnya. Karena seperti pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang, maka brand yang dikenal lah yang akan disayang (dibeli).

Sementara itu aku masih berdiri di depan rak, menggalaukan hal yang sama. Entah kenapa susah sekali memilih mereka. Mengapa tidak ada suatu brand yang menancap di benakku? Mungkin kah aku merupakan tipe orang yang susah untuk mencintai? Atau tipe orang yang tidak peka walau sudah dikode berkali-kali (melalui iklan TV, radio, youtube, dll). Yah... Mungkin saja...

Ah, tunggu... Samar-samar kudengar suara yang tidak asing di tengah bisingnya lorong rak jajan. Kata - katanya tetap sama, "pilihlah aku!", hanya saja suaranya begitu familiar.

Terdorong oleh rasa penasaran, akupun mengikuti suara tersebut.

"Ah, ternyata kamu." kataku ogah-ogahan, begitu mendapati ternyata sosok familiar tersebut adalah kenalanku sejak TK.

Akhirnya aku pun kembali pulang, sambil membawa Tango rasa vanilla di tangan.

Minggu, 03 April 2016

Jadi Bubur atau Jadi Kerak?


Anita : "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Le."

Leo : "Thank you, Nit... Tapi aku suka bubur, jadi sepertinya peribahasamu kurang tepat."

Anita : "Eh, terus gimana dong?"

Leo : "Hmmm... Ganti jadi nasi sudah menjadi kerak?"

Anita : "Ya nggak bisa dong. Maksudnya peribahasa ini kan hal yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi. Masalahnya kerak bisa jadi nasi lagi kalau ditambahi air lalu dimasak."

Leo : "Tapi rasa kerak kan tidak enak, jadi cocok untuk dilantunkan pada orang yang menyesal. Jika jadi bubur, bubur kan enak, ya cocoknya ditujukannya untuk orang yang sukses."

Anita : "Ha? Contohnya?"

Leo : "Selamat ya, kamu sudah lulus SD! Nasi sudah menjadi bubur! Jadi maksudnya kamu sudah tidak bisa mengulang SD lagi, dan tentu saja kamu tidak menyesalkan? Emang mau ngulang SD lagi?"

Anita : "Freak!"

Leo : "Biarin. Lagian emang lebih cocok nasi sudah menjadi kerak kok, kalau mau menghibur orang yang menyesal."

Anita : "Kan sudah kubilang, kerak itu bisa jadi nasi lagi. Esensi peribahasanya berubah dong!"

Leo : "Justru itu! Nih, dengerin ya.... Misalnya untuk kasusku barusan. Sudah tahu hari ini ujian pagi, eh malamnya malah begadang main DotA. Akhirnya keesokan harinya bangun kesiangan deh, terus terlambat dan tidak bisa ikut ujian. Lalu datang Anita, teman sebangkunya yang ingin menghibur. "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Le." kata Anita dengan wajah turut prihatin. Bukannya terhibur, Leo malah makin terpuruk. Dia jadi sadar bahwa tidak ada hal yang bisa dilakukannya lagi, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan hingga bayi bisa break dance pun bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi."

Anita : "Emang seharusnya gimana?"

Leo : "Gini..... Semua akan berbeda bila Anita berkata, 'nasi sudah menjadi kerak'. Mengapa? Semua orang tentu pernah melakukan kesalahan. Mungkin karena perbuatan bodohnya nasi yang Leo punya berubah menjadi kerak yang kering, tidak enak, dan tidak layak makan. Tapi ingat, Leo bisa merubah kerak yang tidak enak itu menjadi nasi lagi. Asalkan dia mau bersusah payah memasaknya kembali. Sekarang pilihan ada di tangan Leo, mau meratapi kesalahan terus sambil memakan kerak yang tidak enak, atau move on dan kembali bersusah payah merubah kerak tersebut menjadi nasi."

Anita : "Gile lu... Sudah kayak motivator aja.."

Leo : "Hahahaha.. Biasa aja.."

Anita : "Tapi aku tetap keberatan sih."

Leo : "Ha? Kenapa?"

Anita : "Soalnya kalau gitu kan mereka yang menyesal tidak akan jera. Ah, tenang saja, masih ada kesempatan kedua. Ah, tenang saja, kerak kan bisa jadi nasi lagi."

Leo : "Emang nasi yang terbuat dari kerak rasanya enak?"

Anita : "Ya, nggak lah... Pasti lebih enak yang dari beras."

Leo : "Nah itu! Nasi yang terbuat dari kerak saja sudah tidak seenak aslinya, apalagi nasi yang terbuat dari kerak yang sudah mengerak berkali-kali. Makanya, kalau memang benar menyesal, harusnya berusaha berubah. Kalau menyesal doang tapi tetap mengulangi kesalahan yang sama berulang kali, percuma, hasilnya sama saja. Tidak enak!"

Anita : "Iya, iya... Kali ini aku benar-benar setuju. Eh, btw bukannya semester lalu kamu juga terlambat ujian gara-gara DotA, Le?"

Debby : "Waktu semester dua juga pernah~"

Leo : " ........."


Jumat, 01 April 2016

Sudah Nggak Bisa Sih

Aka : "Wiii... Ternyata kamu bisa main keyboard to."

Bebe : "Ah, biasa aja. Nggak terlalu jago kok."

Aka : "Les?"

Bebe : "Nope, diajari omku waktu dulu kelas tiga SD."

Aka : "Hooo... Keren, keren. Aku dulu juga bisa sih, soalnya pernah les waktu SMP. Tapi setelah itu bosan, lalu berhenti dan nggak pernah main lagi."

Bebe : "Wih, sudah lama vakum dong! Eaaa.... Kangen ya? Sini deh, ganti kamu aja yang main."

Aka : "Eh, nggak kangen kok. Lagian aku sudah nggak main bisa sekarang, hehehe... Beda sama dulu. Kalau dulu sih lagu apa saja langsung jalan."

Bebe : "Nggak masalah, coba dulu saja. Main yang sederhana, sekalian sambil mengingat chord."

Aka : "Nggak deh, malas..."

Bebe : "Ya udah."

Aka : "Omong-omong kamu kok masih pakai buku sih? Katanya sudah bisa dari dulu... Hehehe.. Coba belajar menghafal saja, supaya mainnya bisa seratus persen konsentrasi ke keyboard. Aku dulu sudah bisa lepas dari buku. Pokoknya dengar suatu lagu, kuhayati sebentar, langsung main deh."

Bebe : "Itu dulu kan?"

Aka : "Iya... Sekarang sudah nggak bisa, sudah lama nggak main, hehehe..."

Bebe : "........."

Aka : "Eh, aku dulu juga pernah main lagu ini! Kayaknya yang bagian pertama itu harus divariasi deh, yang kamu mainin barusan terlalu kaku."

Bebe : "Bisa kasih contoh, nggak?!"

Aka : "Ya enggak, kan aku sudah bilang kalau sekarang sudah nggak bisa main..."

Bebe : "Kalau sudah enggak bisa tu diem. Harusnya kamu malu, karena tambah usia tambah gak ada ilmunya..."

Aka : "Iya... Iya... Gitu aja marah...."

*B kembali main*

Aka : "Eh, btw jarimu barusan-"

Bebe : "AAAAAAAAARRRGGGHHHHHH........"




Selasa, 22 Maret 2016

Asal Usul Nama Milo


Siapa tidak kenal Dancow? Kurasa hampir semua orang pernah mendengarnya, atau  malah pernah mengonsumsinya barangkali. Tidak heran, perusahaan anakan Nestle ini memang merupakan salah satu jempolan produk susu anak di Indonesia. Produknya sudah menjamur di mana-mana, mulai dari kota besar hingga desa, dari ujung Barat hingga ujung Timur, dari atas gunung hingga pinggir pantai, semua dimasuki olehnya.
Perkembangan Dancow yang melesat bagai roket tidak bisa tidak dirasakan oleh Nestle. Perusahaan raksasa itu pun berencana membuat satu perusahaan lagi di Indonesia. Tapi mau buat apa? Setelah diskusi panjang tanpa tidur selama beberapa hari, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat perusahaan minuman cokelat.

Membuat sebuah perusahaan tidaklah seremeh membuat mi instant. Butuh ketelitian tinggi dan berbagai macam riset untuk meminimalisir masalah, karena bencana kecil saja bisa fatal akibatnya. Maka datanglah utusan dari perusahaan minuman cokelat ini ke perusahaan Dancow. Karena sama-sama dari Nestle, si Dancow menerimanya dengan baik.

"Hei, bagi rahasia dong, kenapa sih kok Dancow bisa sesukses ini di Indonesia?" kata X, utusan dari peruahaan cokelat.

"Hmm... Kamu sudah meneliti budaya Indonesia?" kata Mister D dengan nada menghakimi. Alisnya yang tebal mengernyit.

Tanpa menjawab sudah atau belum, si X langsung berceloteh, "menghormati orang yang lebih tua, tangan kanan lebih sopan, budaya kebersamaan, -"

"STOP!" teriak Mister D tiba-tiba, "Itu dia! Kebersamaan, alias kesatuan."

Lalu dengan bersemangat Mister D menjelaskan bahwa Dancow sukses karena slogannya. Slogan "Aku dan Kau suka Dancow" begitu mengena ke berbagai macam kalangan masyarakat di Indonesia. Saking mengenanya, bahkan orang dewasa yang sudah tidak mengonsumsi Dancow pun masih hafal dengan slogan tersebut. Sebenarnya kekuatan slogan ini ada pada kata "Aku dan Kau". Kata-kata itu sangat pas dengan budaya kesatuan Indonesia, sehingga seolah-olah Dancow ini adalah Indonesia. Makanya tidak heran jika Dancow sangat digandrungi di sini.

Bunyi nafas terengah-engah terdengar tepat pada saat Mister D selesai memberi penjelasan. Rupanya dia lupa untuk mengambil nafas saking bersemangatnya cerita. Sedangkan X masih terdiam di tempat sambil melongo, berusaha memproses data yang masuk.

Singkat cerita pembicaraan itu berlanjut ke sesi ngopi bareng dan ngobrol santai. Setelah itu X pamit pulang.

Setengah tahun setelah pertemuan penting tersebut, produk minuman cokelat buatan Nestle turun ke pasaran. Anak perusahaan Nestle, sang perusahaan multinasional, yang membuka perusahaannya di Jakarta ini menamai minumannya dengan patokan slogan "Aku dan Kau" milik Dancow.

Namanya adalah...... MILO! Yang merupakan cara baca dari Me, alias aku(Inggris) dan Loe alias kau(Jakarta).