Selasa, 24 Mei 2016

Ingin Makanan Mahal

Bobi baru saja selesai membantu Anton menyelesaikan tugas besarnya. Bukan tugas yang mudah tentu saja. Karena jika tugas itu tak sulit, tentu dia sudah mengerjakannya sendiri.

"Mau kutraktir apa?" kata Anton, setelah selesai mengumpulkan tugasnya.

"Makan aja, yang mahal." kata Bobi sambil senyum kegirangan. Matanya yang sipit langsung hilang tertelan pipi besarnya.

Setelah berjalan beberapa saat, mereka berdua tiba di sebuah restoran mewah. Anton pesan mi ayam, sedangkan Bobi pesan nasi goreng spesial lima rasa. Anton tersenyum kecut.

Makanan akhirnya tiba.

"Nasi gorengnya enak, Bob?" kata Anton penasaran.

"Aku belum pernah makan masakan yang lebih enak dari masakan mamaku. Termasuk nasi goreng ini. Kalau mau kapan - kapan kamu bisa ke rumahku buat nyicipin."

"Lalu, kenapa kamu minta traktir makanan? Makanan mahal pula. Kalau emang enak masakan mamamu, ya minta traktir hal lain kek." kata Anton sewot.

Bobi tersenyum kecil.

"Seseorang yang berkelimpahan air, pasti akan lebih memilih makanan jika diberi pilihan. Sebaliknya, orang yang berkelimpahan makanan akan memilih air. Manusia tentu akan lebih memilih hal yang kurang, hal yang tidak dimilikinya. Makanya tidak heran kalau ada anak yang kaya, hidup serba berkecukupan, tapi tingkah lakunya nakal sekali. Dia punya segalanya kecuali perhatian, makanya dia cari perhatian dengan berbuat nakal."

"Lalu?" kata Anton dengan nada tertahan.

"Aku dari kecil makan masakan mamaku. Pagi, siang, malam selalu makan makanan enak. Makanya aku pingin makanan mahal. Tidak seenak masakan mamaku gak masalah, yang penting mahal!"

"Ya elah.... Suka-suka kamu lah..." kata Anton tak habis pikir.