Senin, 18 April 2016

Pilihlah Aku, Rido!

Pada suatu pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Kucoba kembali menutup mata, namun tak terjadi apa-apa. Aku tetap terjaga. Oke, mungkin sudah saatnya bangun, pikirku dalam hati. Dan kisah pagi hariku pun dimulai.
Sembayang, liat instagram, 9gag, baca buku, nonton anime.......

"Krruuuuukk" tiba-tiba terdengar bunyi raungan. Sial, aku lapar. Kulihat jam tangan yang tergeletak di meja (gak ada jam dinding di kos.) Ah, pantas saja, ternyata sudah dua jam berlalu sejak aku membuka mata.

Akhirnya kuputuskan untuk keluar membeli jajan di minimarket 24 jam terdekat.

Jalanan masih sepi, sepedaku melesat kencang bagai anak sekolahan yang berhamburan keluar gerbang kala bel pulang berdentang. Alhasil, tidak sampai lima menit aku sudah sampai di tujuan.

Kubuka pintu minimarket dan langsung berjalan menuju ke rak belakang. Tanpa celingukan kiri kanan, tanpa bertanya di mana letak rak jajan. Langsung berjalan begitu saja, seperti tuan rumah yang hendak mengambil barangnya sendiri. Yah, gimana lagi, sudah hafal letaknya sih... Hahaha...

Beberapa langkah kemudian aku sudah sampai di lorong paling belakang, tepat di depan rak jajan. Perburuan pun dimulai. Mataku jelalatan ke atas dan ke bawah, mengamati beraneka ragam jajan yang dipajang. Kakiku tidak mau kalah, tiada lelah bergerak mondar mandir bagai setrika yang sedang bekerja.

Namun rupanya perburuan tidak selesai secepat yang kuduga. Tidak semudah itu memilih satu di antara puluhan merk yang terpampang di depan mata. Semua seakan berteriak "Pilihlah aku! Pilihlah aku! Hei, Rido, pilihlah aku!"

Aku terdiam, tenggelam dalam kebingungan.

Semua senada sekata, meneriakkan hal yang sama dengan intensitas suara yang tak jauh berbeda. Lantas siapa yang harus kupilih?

Guru iklanku, Pak Deddi Duto, pernah berkata bahwa proses pemilihan merk tidak hanya terjadi saat berhadap-hadapan seperti yang sekarang ini kualami (memilih merk secara langsung di rak minimarket). Melainkan sudah terjadi jauh sebelumnya melalui iklan TV, billboard, event, dan hal lain yang kita konsumsi. Nah, melalui media-media yang kita konsumsi itulah citra sebuah brand terbentuk di bawah alam sadar kita. Terbentuknya citra suatu brand di bawah alam sadar kita membuat kita mengenali brand itu (sadar atau tidak) dan akhirnya kemungkinan besar kita akan mengambilnya. Karena seperti pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang, maka brand yang dikenal lah yang akan disayang (dibeli).

Sementara itu aku masih berdiri di depan rak, menggalaukan hal yang sama. Entah kenapa susah sekali memilih mereka. Mengapa tidak ada suatu brand yang menancap di benakku? Mungkin kah aku merupakan tipe orang yang susah untuk mencintai? Atau tipe orang yang tidak peka walau sudah dikode berkali-kali (melalui iklan TV, radio, youtube, dll). Yah... Mungkin saja...

Ah, tunggu... Samar-samar kudengar suara yang tidak asing di tengah bisingnya lorong rak jajan. Kata - katanya tetap sama, "pilihlah aku!", hanya saja suaranya begitu familiar.

Terdorong oleh rasa penasaran, akupun mengikuti suara tersebut.

"Ah, ternyata kamu." kataku ogah-ogahan, begitu mendapati ternyata sosok familiar tersebut adalah kenalanku sejak TK.

Akhirnya aku pun kembali pulang, sambil membawa Tango rasa vanilla di tangan.

Minggu, 03 April 2016

Jadi Bubur atau Jadi Kerak?


Anita : "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Le."

Leo : "Thank you, Nit... Tapi aku suka bubur, jadi sepertinya peribahasamu kurang tepat."

Anita : "Eh, terus gimana dong?"

Leo : "Hmmm... Ganti jadi nasi sudah menjadi kerak?"

Anita : "Ya nggak bisa dong. Maksudnya peribahasa ini kan hal yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi. Masalahnya kerak bisa jadi nasi lagi kalau ditambahi air lalu dimasak."

Leo : "Tapi rasa kerak kan tidak enak, jadi cocok untuk dilantunkan pada orang yang menyesal. Jika jadi bubur, bubur kan enak, ya cocoknya ditujukannya untuk orang yang sukses."

Anita : "Ha? Contohnya?"

Leo : "Selamat ya, kamu sudah lulus SD! Nasi sudah menjadi bubur! Jadi maksudnya kamu sudah tidak bisa mengulang SD lagi, dan tentu saja kamu tidak menyesalkan? Emang mau ngulang SD lagi?"

Anita : "Freak!"

Leo : "Biarin. Lagian emang lebih cocok nasi sudah menjadi kerak kok, kalau mau menghibur orang yang menyesal."

Anita : "Kan sudah kubilang, kerak itu bisa jadi nasi lagi. Esensi peribahasanya berubah dong!"

Leo : "Justru itu! Nih, dengerin ya.... Misalnya untuk kasusku barusan. Sudah tahu hari ini ujian pagi, eh malamnya malah begadang main DotA. Akhirnya keesokan harinya bangun kesiangan deh, terus terlambat dan tidak bisa ikut ujian. Lalu datang Anita, teman sebangkunya yang ingin menghibur. "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Le." kata Anita dengan wajah turut prihatin. Bukannya terhibur, Leo malah makin terpuruk. Dia jadi sadar bahwa tidak ada hal yang bisa dilakukannya lagi, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan hingga bayi bisa break dance pun bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi."

Anita : "Emang seharusnya gimana?"

Leo : "Gini..... Semua akan berbeda bila Anita berkata, 'nasi sudah menjadi kerak'. Mengapa? Semua orang tentu pernah melakukan kesalahan. Mungkin karena perbuatan bodohnya nasi yang Leo punya berubah menjadi kerak yang kering, tidak enak, dan tidak layak makan. Tapi ingat, Leo bisa merubah kerak yang tidak enak itu menjadi nasi lagi. Asalkan dia mau bersusah payah memasaknya kembali. Sekarang pilihan ada di tangan Leo, mau meratapi kesalahan terus sambil memakan kerak yang tidak enak, atau move on dan kembali bersusah payah merubah kerak tersebut menjadi nasi."

Anita : "Gile lu... Sudah kayak motivator aja.."

Leo : "Hahahaha.. Biasa aja.."

Anita : "Tapi aku tetap keberatan sih."

Leo : "Ha? Kenapa?"

Anita : "Soalnya kalau gitu kan mereka yang menyesal tidak akan jera. Ah, tenang saja, masih ada kesempatan kedua. Ah, tenang saja, kerak kan bisa jadi nasi lagi."

Leo : "Emang nasi yang terbuat dari kerak rasanya enak?"

Anita : "Ya, nggak lah... Pasti lebih enak yang dari beras."

Leo : "Nah itu! Nasi yang terbuat dari kerak saja sudah tidak seenak aslinya, apalagi nasi yang terbuat dari kerak yang sudah mengerak berkali-kali. Makanya, kalau memang benar menyesal, harusnya berusaha berubah. Kalau menyesal doang tapi tetap mengulangi kesalahan yang sama berulang kali, percuma, hasilnya sama saja. Tidak enak!"

Anita : "Iya, iya... Kali ini aku benar-benar setuju. Eh, btw bukannya semester lalu kamu juga terlambat ujian gara-gara DotA, Le?"

Debby : "Waktu semester dua juga pernah~"

Leo : " ........."


Jumat, 01 April 2016

Sudah Nggak Bisa Sih

Aka : "Wiii... Ternyata kamu bisa main keyboard to."

Bebe : "Ah, biasa aja. Nggak terlalu jago kok."

Aka : "Les?"

Bebe : "Nope, diajari omku waktu dulu kelas tiga SD."

Aka : "Hooo... Keren, keren. Aku dulu juga bisa sih, soalnya pernah les waktu SMP. Tapi setelah itu bosan, lalu berhenti dan nggak pernah main lagi."

Bebe : "Wih, sudah lama vakum dong! Eaaa.... Kangen ya? Sini deh, ganti kamu aja yang main."

Aka : "Eh, nggak kangen kok. Lagian aku sudah nggak main bisa sekarang, hehehe... Beda sama dulu. Kalau dulu sih lagu apa saja langsung jalan."

Bebe : "Nggak masalah, coba dulu saja. Main yang sederhana, sekalian sambil mengingat chord."

Aka : "Nggak deh, malas..."

Bebe : "Ya udah."

Aka : "Omong-omong kamu kok masih pakai buku sih? Katanya sudah bisa dari dulu... Hehehe.. Coba belajar menghafal saja, supaya mainnya bisa seratus persen konsentrasi ke keyboard. Aku dulu sudah bisa lepas dari buku. Pokoknya dengar suatu lagu, kuhayati sebentar, langsung main deh."

Bebe : "Itu dulu kan?"

Aka : "Iya... Sekarang sudah nggak bisa, sudah lama nggak main, hehehe..."

Bebe : "........."

Aka : "Eh, aku dulu juga pernah main lagu ini! Kayaknya yang bagian pertama itu harus divariasi deh, yang kamu mainin barusan terlalu kaku."

Bebe : "Bisa kasih contoh, nggak?!"

Aka : "Ya enggak, kan aku sudah bilang kalau sekarang sudah nggak bisa main..."

Bebe : "Kalau sudah enggak bisa tu diem. Harusnya kamu malu, karena tambah usia tambah gak ada ilmunya..."

Aka : "Iya... Iya... Gitu aja marah...."

*B kembali main*

Aka : "Eh, btw jarimu barusan-"

Bebe : "AAAAAAAAARRRGGGHHHHHH........"