Minggu, 03 April 2016

Jadi Bubur atau Jadi Kerak?


Anita : "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Le."

Leo : "Thank you, Nit... Tapi aku suka bubur, jadi sepertinya peribahasamu kurang tepat."

Anita : "Eh, terus gimana dong?"

Leo : "Hmmm... Ganti jadi nasi sudah menjadi kerak?"

Anita : "Ya nggak bisa dong. Maksudnya peribahasa ini kan hal yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi. Masalahnya kerak bisa jadi nasi lagi kalau ditambahi air lalu dimasak."

Leo : "Tapi rasa kerak kan tidak enak, jadi cocok untuk dilantunkan pada orang yang menyesal. Jika jadi bubur, bubur kan enak, ya cocoknya ditujukannya untuk orang yang sukses."

Anita : "Ha? Contohnya?"

Leo : "Selamat ya, kamu sudah lulus SD! Nasi sudah menjadi bubur! Jadi maksudnya kamu sudah tidak bisa mengulang SD lagi, dan tentu saja kamu tidak menyesalkan? Emang mau ngulang SD lagi?"

Anita : "Freak!"

Leo : "Biarin. Lagian emang lebih cocok nasi sudah menjadi kerak kok, kalau mau menghibur orang yang menyesal."

Anita : "Kan sudah kubilang, kerak itu bisa jadi nasi lagi. Esensi peribahasanya berubah dong!"

Leo : "Justru itu! Nih, dengerin ya.... Misalnya untuk kasusku barusan. Sudah tahu hari ini ujian pagi, eh malamnya malah begadang main DotA. Akhirnya keesokan harinya bangun kesiangan deh, terus terlambat dan tidak bisa ikut ujian. Lalu datang Anita, teman sebangkunya yang ingin menghibur. "Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Le." kata Anita dengan wajah turut prihatin. Bukannya terhibur, Leo malah makin terpuruk. Dia jadi sadar bahwa tidak ada hal yang bisa dilakukannya lagi, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan hingga bayi bisa break dance pun bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi."

Anita : "Emang seharusnya gimana?"

Leo : "Gini..... Semua akan berbeda bila Anita berkata, 'nasi sudah menjadi kerak'. Mengapa? Semua orang tentu pernah melakukan kesalahan. Mungkin karena perbuatan bodohnya nasi yang Leo punya berubah menjadi kerak yang kering, tidak enak, dan tidak layak makan. Tapi ingat, Leo bisa merubah kerak yang tidak enak itu menjadi nasi lagi. Asalkan dia mau bersusah payah memasaknya kembali. Sekarang pilihan ada di tangan Leo, mau meratapi kesalahan terus sambil memakan kerak yang tidak enak, atau move on dan kembali bersusah payah merubah kerak tersebut menjadi nasi."

Anita : "Gile lu... Sudah kayak motivator aja.."

Leo : "Hahahaha.. Biasa aja.."

Anita : "Tapi aku tetap keberatan sih."

Leo : "Ha? Kenapa?"

Anita : "Soalnya kalau gitu kan mereka yang menyesal tidak akan jera. Ah, tenang saja, masih ada kesempatan kedua. Ah, tenang saja, kerak kan bisa jadi nasi lagi."

Leo : "Emang nasi yang terbuat dari kerak rasanya enak?"

Anita : "Ya, nggak lah... Pasti lebih enak yang dari beras."

Leo : "Nah itu! Nasi yang terbuat dari kerak saja sudah tidak seenak aslinya, apalagi nasi yang terbuat dari kerak yang sudah mengerak berkali-kali. Makanya, kalau memang benar menyesal, harusnya berusaha berubah. Kalau menyesal doang tapi tetap mengulangi kesalahan yang sama berulang kali, percuma, hasilnya sama saja. Tidak enak!"

Anita : "Iya, iya... Kali ini aku benar-benar setuju. Eh, btw bukannya semester lalu kamu juga terlambat ujian gara-gara DotA, Le?"

Debby : "Waktu semester dua juga pernah~"

Leo : " ........."


5 komentar:

  1. Super sekali abang rido tentang khayalannya, padahal aku ngga mungkin ngomong kyk gituπŸ˜‚
    Bagusbagus WOOO!

    BalasHapus
    Balasan
    1. pinjem nama ya... wkwkwk... siapa tau ntar ikut trkenal...

      Hapus
  2. Super sekali abang rido tentang khayalannya, padahal aku ngga mungkin ngomong kyk gituπŸ˜‚
    Bagusbagus WOOO!

    BalasHapus